Daerah  

Kekeringan Maros Meluas, 200 Ribu Warga Terdampak

Redaksi Rubrik
Hamparan sawah bertanaman padi muda dengan permukaan tanah yang pecah-pecah dan kering di antara barisan tanaman, pematang cokelat dan deretan pohon di kejauhan di bawah langit terang
Sawah dengan tanah pecah-pecah pada musim kemarau (ilustrasi, bukan foto kejadian di Maros). Foto: Joko Wardani / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Rubrik.co.id – Kekeringan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, meluas menjadi 11 kecamatan dengan sekitar 200 ribu jiwa terdampak, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros pada Minggu, 20 September 2026. Sebelumnya hanya delapan kecamatan yang kesulitan air bersih, seperti dilaporkan Tribun-Timur.

Delapan kecamatan yang lebih dulu terdampak adalah Bontoa, Lau, Marusu, Maros Baru, Turikale, Moncongloe, Tanralili, dan Mandai. Kekeringan kemudian menjalar ke Kecamatan Simbang dan Bantimurung, bahkan sampai ke wilayah pegunungan Cenrana.

Kepala BPBD Maros, Towadeng, menyebut tinggal tiga kecamatan yang belum terdampak. “Tiga Kecamatan ini berada di wilayah pegunungan seperti Mallawa Camba dan Tompobulu,” katanya kepada Tribun-Timur.

Gerbang dan pagar biru muda Kantor Camat Maros Baru dengan papan nama hitam bertuliskan Pemerintah Kabupaten Maros, dua bendera merah putih, pepohonan, dan spanduk layanan pajak di sisi kanan
Kantor Kecamatan Maros Baru, salah satu wilayah terdampak kekeringan (foto lama, ilustrasi). Foto: Anhar Karim / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

800 Tangki dalam Dua Bulan

Towadeng menuturkan, BPBD Maros telah menyalurkan 800 tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter dalam dua bulan terakhir, atau setara 4 juta liter. Setiap hari minimal delapan armada dikerahkan ke Kecamatan Bontoa, terutama kawasan pesisir.

Bupati Maros Chaidir Syam menyatakan armada didistribusikan bergilir ke wilayah terdampak, dengan anggaran awal Rp600 juta. “Kita berkolaborasi agar penyaluran air bersih ini berjalan maksimal. Selama kondisi belum normal, distribusi akan terus dilakukan,” ujarnya, juga kepada Tribun-Timur.

Rincian jumlah tangki, anggaran, dan nama kecamatan di atas berasal dari laporan Tribun-Timur. Bantuan air bersih untuk Maros sendiri sudah berjalan sejak sebelumnya: FajarSulsel mencatat Pemprov Sulsel ikut menyalurkan air bersih ke warga terdampak kekeringan di Makassar dan Maros pada pertengahan September 2026.

Satgas Kekeringan dan Siaga Kebakaran TPA

Berdasarkan perkiraan BMKG yang dikutip Tribun-Timur, musim kemarau di Maros masih berlangsung sampai awal November 2026. Artinya wilayah terdampak berpotensi terus bertambah.

Di sektor pertanian, Pemkab Maros membentuk satuan tugas kekeringan yang bertugas mendata lahan terdampak hingga potensi puso. Data itu diteruskan ke pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Pemkab juga menyiagakan satu unit mobil pemadam kebakaran setiap hari untuk menyiram Tempat Pembuangan Akhir agar titik api tidak muncul. “Kami juga mengantisipasi potensi kebakaran di TPA dengan menyiagakan satu mobil pemadam yang melakukan penyiraman setiap hari,” kata Chaidir Syam.

Maros bukan satu-satunya daerah yang terjepit kemarau tahun ini. Di Kabupaten Wajo, kekeringan melanda 13 kecamatan dengan 303.000 liter air bersih yang disalurkan BPBD setempat. Di Pinrang, kekeringan memicu protes petani Duampanua soal pembagian air irigasi, sementara di Bulukumba ratusan keluarga di Luppung bergantung pada pasokan air bersih karena sumur mengering dan berasa asin.