BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Pinisi, seni pembuatan perahu di Sulawesi Selatan, ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada Kamis, 7 Desember 2017, dengan nama elemen resmi Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi. Per September 2026, UNESCO mencatat Tana Beru dan Bira di Kabupaten Bulukumba, serta Batu Licin, sebagai pusat pembuatannya.
Penetapan itu diputuskan dalam sidang ke-12 Komite Antarpemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda di Pulau Jeju, Korea Selatan, yang berlangsung 4–9 Desember 2017. Pinisi masuk Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan lewat keputusan 12.COM 11.b.13. Tanggal penetapannya dilaporkan ANTARA dari keterangan delegasi Indonesia.

| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama elemen | Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi (nomor berkas 01197) |
| Daftar | Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity |
| Keputusan | 12.COM 11.b.13, sidang ke-12 Komite, Pulau Jeju, 4–9 Desember 2017 |
| Tanggal penetapan | Kamis, 7 Desember 2017 |
| Negara pengusul | Indonesia; berkas disusun sejak 2014 |
| Inventaris nasional | Tercatat dalam inventaris kekayaan budaya Indonesia sejak 2010 |
| Pusat pembuatan | Tana Beru, Bira, dan Batu Licin |
| Pelaku utama | Panrita Lopi (ahli pembuat kapal), Sawi (kelompok pekerja), dan Sambalu (pemesan kapal) |
Sumber: UNESCO Intangible Cultural Heritage, halaman elemen dan Keputusan 12.COM 11.b.13; tanggal penetapan dari ANTARA, Desember 2017.
Di Mana Pinisi Dibuat di Bulukumba?
Tana Beru berada di Kecamatan Bonto Bahari, ujung selatan Kabupaten Bulukumba. Dalam publikasi Kecamatan Bonto Bahari Dalam Angka 2025, BPS menulisnya Kelurahan Tanah Beru, dengan luas 7,72 kilometer persegi. Bira dan Ara, dua tempat lain yang lekat dengan tradisi perahu, tercatat sebagai desa di kecamatan yang sama.
Menurut berkas UNESCO, sekitar 70 persen penduduk di pusat-pusat pembuatan itu menggantungkan hidup pada pekerjaan yang berkaitan dengan pembuatan kapal dan pelayaran. Sekitar 500 orang disebut terlibat langsung dalam pembangunan dan perlengkapan kapal saat berkas dinilai.
Pengetahuan membuat pinisi diwariskan turun-temurun di lingkungan keluarga dan lewat pembagian kerja. Panrita lopi memimpin para sawi, mulai dari mandor hingga tukang pemula, sementara sambalu adalah pemesan kapal. UNESCO juga mencatat sebagian ritual pembuatan perahu bersifat rahasia, misalnya mantra dalam upacara tertentu.
Wakil Bupati Bulukumba saat itu, Tomy Satria Yulianto, ikut dalam delegasi Indonesia pada sidang di Jeju, menurut ANTARA.
Festival Pinisi di Bulukumba
Penyelenggaraan festival perahu tahunan termasuk langkah pelestarian yang dicantumkan Indonesia dalam berkas UNESCO. Di Bulukumba, Festival Pinisi XV dibuka pada Kamis, 23 Oktober 2025, di Pantai Mandala Ria, Desa Lembanna, Kecamatan Bonto Bahari, ditandai ritual annyorong lopi atau peluncuran kapal ke laut.
Festival Pinisi XVI dijadwalkan 15–17 Oktober 2026, dengan rangkaian karnaval budaya, annyorong lopi, andingingi, lomba katinting, lomba hias perahu, dan atraksi sailing, menurut Radar Selatan. Festival itu masuk Karisma Event Nusantara 2026 berdasarkan Keputusan Menteri Pariwisata Nomor SK/2/HK.01.02/MP/2026, seperti diumumkan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Bulukumba.
Liputan Rubrik tentang Pinisi
Rubrik.co.id sebelumnya memberitakan jadwal Festival Pinisi XVI, ritual annyorong lopi pada pembukaan Festival Pinisi XV, dan perbaikan jalan Tanete-Tanaberu menuju kawasan pembuatan kapal.
