Daerah  

Dua Menteri ke KNMP Sinjai, Bulukumba Punya KNMP Bentenge

Redaksi Rubrik
Seorang nelayan lanjut usia bersongkok dan bersarung duduk di tepi dermaga sambil tersenyum, didampingi petugas muda bertas punggung yang mengisi lembar pendataan, berlatar perahu kayu putih
Pendataan nelayan oleh staf lapangan MDPI di Desa Lapecce, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Agustus 2016 (ilustrasi, bukan di Tongke-Tongke maupun Bentenge). Foto: USAID Indonesia / Wikimedia Commons, domain publik

SINJAI, Rubrik.co.id – Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dan Menteri Koperasi Ferry Juliantono menghadiri peresmian operasionalisasi Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, pada Jumat, 25 September 2026. Penandatanganan nota kesepahaman pengelolaan dan operasionalisasi KNMP dilakukan pada kesempatan yang sama, seperti dimuat ANTARA.

Kedua menteri meninjau fasilitas yang sudah berdiri di kawasan itu, di antaranya unit pengolahan hasil perikanan, gudang beku, dan pabrik es, lalu berdialog dengan nelayan setempat. Rangkaian kunjungan itu dilaporkan Rakyat Sulsel.

Solar dan Rantai Dingin Jadi Keluhan Nelayan

Keluhan utama yang disampaikan nelayan adalah kebutuhan bahan bakar minyak, khususnya solar, untuk melaut. “Kami datang ke sini untuk mengetahui apa kendalanya, ternyata salah satunya adalah (ketersediaan) bahan bakar yang masih kurang. Maka ini akan menjadi perhatian dari kita semua untuk bisa segera diatasi secara jangka panjang,” kata Trenggono. Ia juga menyoroti rantai dingin: “Karena kalau hanya pakai es batu, kualitas ikan pasti turun.”

Seorang nelayan bertopi merah mengangkat seekor ikan cakalang besar dengan satu tangan, berlatar laut biru kehijauan
Nelayan memperlihatkan cakalang hasil pancing ulur di Desa Namsina, Pulau Buru, Maluku, November 2015 (ilustrasi hasil tangkapan nelayan, bukan di Sulawesi Selatan). Foto: USAID Indonesia / Wikimedia Commons, domain publik

Koperasi Merah Putih Akan Menyerap Tangkapan

Ferry Juliantono menyatakan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan menyerap hasil tangkapan nelayan KNMP untuk dipasarkan lewat jaringan koperasi. “Hasil tangkapan para nelayan di sini akan kita perbaiki, akan kita tingkatkan kualitasnya, bahkan kemudian bisa kita kembangkan permodalan yang dibutuhkan oleh nelayan,” ujarnya. Ia meminta keberadaan koperasi di kawasan KNMP diintegrasikan agar tidak terjadi duplikasi pembangunan fasilitas. Pola koperasi yang sama sudah berjalan di Bulukumba, antara lain di Kopdes Merah Putih Bontominasa yang menerima mobil niaga dari pemerintah pusat.

Bulukumba Punya KNMP Bentenge

Tongke-Tongke bukan satu-satunya lokasi KNMP di kawasan selatan Sulawesi Selatan. Kelurahan Bentenge, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, termasuk dalam 65 lokasi tahap pertama yang ditetapkan lewat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 55 Tahun 2025, sebagaimana diumumkan PPID Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 17 September 2025. Kawasannya berada di dekat kolam labuh dan Tempat Pelelangan Ikan Bentenge, lokasi yang sama dengan kemunculan buaya muara pada 13 September 2026.

Menurut keterangan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bulukumba Kusnadi Kamal yang dimuat laman Pemerintah Kabupaten Bulukumba pada 13 Oktober 2025, pembangunan KNMP Bentenge dimulai awal Oktober 2025 dengan target rampung Desember 2025. Setiap titik KNMP dialokasikan anggaran sekitar Rp20 miliar, sekitar Rp12 miliar di antaranya untuk infrastruktur. Fasilitas yang direncanakan mencakup gudang beku, pabrik es, bengkel dan tambatan kapal, kios perbekalan, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan, sentra kuliner, serta koperasi nelayan. Kolam labuh di kawasan itu sebelumnya mendapat suntikan anggaran Rp10 miliar dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Keterangan resmi tentang status operasional KNMP Bentenge dan rencana penyerapan tangkapan oleh koperasi di Bulukumba belum diumumkan Kementerian Kelautan dan Perikanan maupun Pemerintah Kabupaten Bulukumba sampai naskah ini disusun. Persoalan solar yang dikeluhkan nelayan Tongke-Tongke juga muncul di Bulukumba, yang sempat menjadi tuntutan aksi mahasiswa pada 21 September 2026.