Rubrik.co.id – Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye menyatakan akan menindaklanjuti keluhan nelayan soal sulitnya mendapat solar dan lambannya pengurusan surat kapal, seusai meninjau kampung nelayan di Desa Palalakkang, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, pada Minggu, 20 September 2026. Kunjungan itu dilaporkan Tribun-Timur.
Daeng Manye berdialog langsung dengan sejumlah nelayan, di antaranya H Taba dan Hasan Banggu. Dalam dialog itu, nelayan menyebut ketersediaan solar sebagai kendala utama operasional kapal.
“BBM-nya susah ini, Pak. Bener-bener susah dari dulu. Sampai sekarang masih susah, tidak normal, Pak,” keluh seorang nelayan, seperti dikutip Tribun-Timur.

Surat Kapal Berbulan-bulan
Persoalan kedua yang disampaikan nelayan adalah pengurusan surat kapal yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Nelayan menyebut Syahbandar sebagai salah satu pihak yang menangani proses administrasi tersebut.
“Nanti saya bicara sama Syahbandar. Supaya cepat,” kata Daeng Manye menanggapi keluhan itu. Ia juga menyinggung upaya pemerintah menyederhanakan perizinan nelayan lewat sistem digital, sehingga pengurusan tidak lagi harus datang ke kantor.
Rincian kunjungan, nama narasumber, dan kutipan di atas berasal dari laporan Tribun-Timur; hingga naskah ini disusun, pemerintah daerah belum menerbitkan keterangan resmi terpisah mengenai pertemuan tersebut.
Kelangkaan Solar Bukan Cuma di Takalar
Keluhan nelayan Galesong muncul di tengah kelangkaan bahan bakar yang sudah berbulan-bulan membebani Sulawesi Selatan. Pemerintah provinsi bahkan mengusulkan tambahan kuota BBM sebesar 30 persen dan menerapkan skema ganjil-genap sementara di sejumlah daerah.
Tekanan itu terasa sampai ke sektor pangan. Di Bulukumba, pembatasan BBM subsidi membuat petani membawa mesin panen combine ke halaman DPRD sebagai bentuk protes. Polda Sulsel pun menetapkan 17 tersangka dalam sejumlah kasus penyalahgunaan BBM subsidi.
Di Takalar sendiri, skema ganjil-genap sudah diberlakukan di stasiun pengisian bahan bakar. Tribun-Timur melaporkan antrean memang melandai setelah aturan itu berjalan, tetapi permintaan pertalite tetap 16 kiloliter per hari. Artinya antreannya yang terurai, bukan kebutuhannya yang berkurang.
Bagi nelayan, solar bukan sekadar biaya operasional, melainkan penentu apakah kapal berangkat atau bersandar. Galesong berada di pesisir barat Takalar dan menghadap Selat Makassar, sehingga kampung seperti Palalakkang menggantungkan aktivitas melautnya pada pasokan yang datang setiap hari.
Belum ada keterangan mengenai kapan penyederhanaan perizinan lewat perangkat digital itu mulai berlaku di Takalar, berapa kuota solar yang tersedia bagi nelayan setempat, maupun hasil pembicaraan Pemkab dengan Syahbandar. Rubrik.co.id akan memperbarui berita ini bila keterangan resmi tersedia.
