Daerah  

Tampungan Bili-Bili 86,1 Juta M3 Aman sampai Desember

Redaksi Rubrik
Bangunan bendung berpilar kuning dengan pintu air di atas sungai berair keruh kehijauan
Bangunan bendung dengan pintu air. Foto ini bukan gambar Bendungan Bili-Bili. Foto: marthen patanda / Wikimedia Commons, CC BY 3.0

GOWA, Rubrik.co.id – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan-Jeneberang menyatakan tampungan Bendungan Bili-Bili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tercatat 86,1 juta meter kubik per Kamis, 1 Oktober 2026, dan dinilai masih cukup melayani PLTA serta kebutuhan air baku di sepanjang Sungai Jeneberang sampai Desember 2026.

Angka itu disampaikan Kepala BBWS Pompengan-Jeneberang Heriantono Waluyadi, dilansir detikSulsel.

“Kondisi Bendungan Bili-Bili status 1 Oktober 2026, bahwa tampungan waduk sebesar 86,1 juta m3,” kata Heriantono.

Laporan itu disertai foto kondisi bendungan yang diambil pada Minggu, 27 September 2026.

Outflow Ditahan di 10 Meter Kubik per Detik

Bendungan saat ini melepas air sebesar 10 meter kubik per detik. Angka itulah yang dipakai sebagai dasar perhitungan ketahanan pasokan.

“Saat ini outflow bendungan adalah sebesar 10 m3/detik, untuk melayani PLTA, kebutuhan Air Baku di sepanjang Sungai Jeneberang,” ujar Heriantono.

Dengan laju pelepasan itu, sisa tampungan diproyeksikan bertahan sekitar tiga bulan ke depan.

“Dari kondisi tampungan yang ada, direncanakan dengan outflow sebesar 10 m3/detik akan mampu melayani kebutuhan PLTA dan air baku sampai bulan Desember 2026,” kata Heriantono.

Proyeksi itu bertumpu pada asumsi laju keluar air tidak berubah. BBWS belum menyebut skema tambahan bila hujan belum juga turun setelah Desember 2026.

Kapasitas PLTA Sulbagsel Turun 650 MW

Air Bili-Bili tidak hanya mengalir ke kebutuhan rumah tangga dan lahan pertanian di hilir Jeneberang.

Bendungan itu juga memasok pembangkit listrik tenaga air yang masuk sistem kelistrikan Sulawesi bagian selatan.

Pada periode kering ini kapasitas PLTA di sistem Sulbagsel tercatat turun 650 megawatt, dari 2.109 MW menjadi 1.459 MW.

Penurunan sebesar itu menjelaskan mengapa pelepasan air bendungan dihitung seketat sekarang. Setiap meter kubik yang dilepas lebih cepat memperpendek umur tampungan.

Kemarau yang Sama Terasa sampai Bulukumba

Musim kering yang menekan tampungan Bili-Bili juga menekan daerah lain di Sulawesi Selatan.

Di Bulukumba, pemerintah daerah menyiapkan sumur bor untuk sawah sekaligus mengirim pasokan air bersih ke Dannuang, seperti dicatat dalam liputan kemarau Bulukumba.

Di Bulukumba, kemarau yang sama sudah menjangkau tujuh kecamatan, sebagaimana dirangkum dalam laporan krisis air bersih Bulukumba.

Berbeda dengan Bulukumba yang bergantung pada sumur dan mata air, kawasan Mamminasata memperoleh air baku dari bendungan sehingga dampaknya tertunda lebih lama.

Pada sisi infrastruktur, Pemprov Sulsel menjalankan program irigasi 54.000 hektare yang ikut menyasar Bulukumba. Rinciannya tercatat dalam liputan irigasi multiyears Sulsel.

Bili-Bili berada di hulu Sungai Jeneberang, sehingga kebijakan outflow-nya menentukan ketersediaan air baku di wilayah hilir, termasuk kawasan Makassar dan sekitarnya.

Status tampungan dilaporkan BBWS secara berkala, dan angka 86,1 juta meter kubik itu merupakan potret per 1 Oktober 2026. Perubahan curah hujan pada Oktober dan November akan menentukan apakah proyeksi sampai Desember bertahan. ***