Ringkasan
- Cabai rawit merah di Makassar dijual sekitar Rp80 ribu sampai Rp85 ribu per kilogram pada Kamis, 8 Oktober 2026.
- Produksi cabai rawit Sulsel mencapai 30.860 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi warga provinsi ini hanya sekitar 17.300 ton.
- Sebagian hasil panen dikirim ke luar daerah karena harganya lebih tinggi, dan belum ada regulasi yang melarang pengiriman itu.
MAKASSAR, Rubrik.co.id – Harga cabai rawit merah di Kota Makassar kembali naik, dijual sekitar Rp80 ribu sampai Rp85 ribu per kilogram pada Kamis, 8 Oktober 2026. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan, Muhammad Ilyas, menyebut faktor musim sebagai penyebab awalnya.
Namun persoalannya tidak berhenti di produksi.
Produksi Berlebih, Harga Tetap Naik
Angka yang disampaikan Ilyas justru menunjukkan Sulsel tidak kekurangan cabai.
Produksi cabai rawit provinsi ini mencapai 30.860 ton, sementara kebutuhan konsumsi warganya hanya sekitar 17.300 ton, sebagaimana dilaporkan Rakyat Sulsel.
Selisih hampir dua kali lipat itu yang membuat kenaikan harga tidak bisa dijelaskan hanya lewat musim.
Panen yang Pergi ke Luar Daerah
Menurut Ilyas, berdasarkan pemantauan tim pengendalian harga, sejumlah daerah masih berproduksi tetapi sebagian hasilnya dikirim keluar Sulsel.
“Ini banyak yang memang masih memproduksi, tapi itu keluar juga,” katanya.
Ia menyebut petani cenderung menjual ke daerah yang menawarkan harga lebih baik, misalnya Jakarta, terlebih bila sudah ada kesepakatan kuota pengiriman.
“Misalnya mereka yang sudah punya kesepakatan kuota misalnya ke Jakarta atau ke Surabaya, atau mungkin ke provinsi lain. Nah pasti dia akan berusaha untuk memenuhi kuotanya, itu manajemen bisnis begitu,” ujarnya.
Belum Ada Aturan yang Melarang
Ilyas menyatakan pihaknya sudah menyampaikan kepada satuan tugas untuk mencoba membatasi pengiriman keluar.
“Nah kita kan belum ada regulasi yang melarang orang untuk mengirim ke luar,” katanya.
Pernyataan itu menandai batas kewenangan: selama tidak ada aturannya, penjualan ke luar daerah adalah keputusan dagang yang sah, dan pemerintah hanya bisa mengimbau.
Dampaknya ke Angka Inflasi
Kenaikan harga ini bukan persoalan dapur semata. Cabai rawit tercatat sebagai penyumbang terbesar kedua inflasi tahunan Sulawesi Selatan dengan andil 0,34 persen, di bawah emas perhiasan.
Harga komoditas ini sudah menjadi perhatian sejak awal Oktober, seperti diberitakan dalam pantauan harga cabai rawit di Makassar.
Di sisi hulu, produksi pangan provinsi ini sedang didorong lewat rehabilitasi jaringan irigasi 54 ribu hektare, meski cabai lebih bergantung pada lahan kering daripada sawah beririgasi.
Cabai rawit termasuk komoditas yang cepat rusak, sehingga petani cenderung melepas panennya segera dan tidak menyimpannya menunggu harga lokal membaik.
Daftar lengkap daerah sentra yang panennya dikirim ke luar Sulsel tidak dirinci Dinas Ketahanan Pangan hingga berita ini diterbitkan. ***
