Ringkasan
- Dua hal berbeda sering disebut dengan satu istilah: sumur yang mengering karena cuaca, dan jaringan perusahaan daerah yang rusak.
- Di pesisir masalahnya bertambah satu lagi, yakni air sumur yang masih ada namun rasanya berubah menjadi asin.
- Satu desa di dataran tinggi memilih membangun pemutar air dari dana desanya sendiri, bukan menunggu jaringan diperbaiki.
BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Krisis air bersih di Bulukumba punya dua penyebab yang berbeda dan sering tertukar. Pertama kemarau, yang mengeringkan sumur warga dan pada Oktober 2026 menjangkau tujuh kecamatan. Kedua kerusakan jaringan PDAM dari sumber air Na’na di Kindang, yang pernah membuat pelanggan tiga kecamatan tidak teraliri selama tiga bulan. Artikel ini memuat keduanya.
Tujuh Kecamatan pada Oktober 2026
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bulukumba menyatakan krisis air bersih sudah menjangkau tujuh kecamatan pada awal Oktober 2026.
Kepala BPBD Bulukumba, Andi Hasbullah, menyebut ketujuhnya adalah Ujung Loe, Ujung Bulu, Bontobahari, Bontotiro, Herlang, Gantarang, dan Kindang.
Perkiraan musim kering yang panjang diperoleh BPBD dari pertemuan dengan BMKG. Bulukumba, Sinjai, Bantaeng, dan Selayar diperkirakan mengalami musim kering lebih lama yang diperparah El Nino.
Dalam sekali penyaluran, petugas mengantar sekitar 5.000 liter air bersih ke titik terdampak.
Sumur Kering dan Air yang Berubah Asin
Di pesisir, persoalannya datang dari dua arah sekaligus. Sebagian sumur warga tidak lagi berair, sementara sumur yang masih menyimpan air tidak bisa dipakai karena rasanya asin.
Hal itu dialami 70 kepala keluarga di Dusun Luppung, Desa Manyampa, Kecamatan Ujung Loe, pada September 2026. Polres Bulukumba dan Damkar menyalurkan air ke sana, dan seorang warga menyebut perubahan rasa air mulai terasa sejak kemarau Agustus.
Luppung bukan wilayah baru dalam peta kekeringan kabupaten. Pada awal September 2026, BPBD sudah menetapkan enam kecamatan berstatus waspada, termasuk Ujung Loe.
Jaringan PDAM dari Sumber Air Na’na
Penyebab kedua tidak ada hubungannya dengan cuaca. Pipa induk PDAM Bulukumba menyalurkan air dari sumber di Na’na, Kecamatan Kindang, dan jalur itu berulang kali rusak.
Pada April 2024, pipa induknya pecah sehingga ratusan kubik air terbuang dan pelanggan tidak teraliri. Perbaikan kerusakan pipa induk di Kindang baru dimulai pada Juni tahun yang sama.
Gangguan terparah terjadi setelah banjir dan tanah longsor di Kindang pada 2025. Bencana itu menggerus pipa induk penyalur, dan ribuan pelanggan di Kindang, Gantarang, serta Ujung Bulu tidak mendapat pasokan selama tiga bulan.
Perusahaan daerah itu juga punya persoalan di luar teknis. Pada November 2025, satu nama ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi PDAM Bulukumba.
Satu Desa yang Membangun Sendiri
Tidak semua wilayah menunggu jaringan diperbaiki. Pemerintah Desa Anrang di Kecamatan Rilau Ale membangun kincir air di Dusun Tonrong memakai dana desa tahun anggaran 2024.
Pengerjaannya berlangsung November sampai Desember 2024, dan diresmikan pada 26 April 2025 oleh Sekretaris Daerah Bulukumba, Muh Ali Saleng.
Kepala Desa Anrang, Ismail, menyebut manfaatnya terasa langsung oleh warga, terutama menjelang kemarau.
Yang Tidak Tersedia Angkanya
Dua hal tidak bisa dipastikan dari pemberitaan yang ada. Pertama, berapa jumlah pelanggan PDAM Bulukumba seluruhnya dan berapa persen rumah tangga yang terlayani jaringan.
Kedua, berapa desa yang sepenuhnya bergantung pada sumur warga. Tanpa dua angka itu, luas sebenarnya persoalan ini tidak bisa diukur, hanya bisa dilihat dari daftar kecamatan terdampak setiap kemarau. ***
Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.
