Daerah  

Jembatan Putus di Bulukumba dan Perbaikannya

Redaksi Rubrik
Jembatan bambu melengkung membentang di antara pepohonan rimbun, ditopang rangka bambu yang bersilang di kedua sisinya, serta teks judul "Jembatan Bambu" dan label Rubrik.co.id - Daerah di bagian atas gambar
Ilustrasi jembatan bambu, diambil di Gajeboh, Desa Kanekes, Banten, bukan di Bulukumba. Foto: OwlyKnight / Wikimedia Commons, CC BY 4.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

Ringkasan

  • Ratusan warga satu desa pernah patungan membeli semen dan pasir untuk menyambung kembali jembatan yang putus.
  • Satu jembatan yang ambruk ternyata berada di ruas jalan kabupaten, bukan jalan desa yang jadi tanggungan pemerintah setempat.
  • Puluhan siswa sempat menyeberangi sungai lewat titian bambu yang bergoyang, selagi jembatan utamanya masih basah seusai dicor.

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Empat jembatan di Bulukumba dilaporkan putus atau roboh sepanjang 2025, seluruhnya di Kecamatan Gantarang dan Herlang. Penyebab yang disebutkan berupa banjir, arus air yang deras, serta usia bangunan. Pada sebagian kasus, warga dan pemerintah desa yang bergerak lebih dulu memperbaikinya.

Empat Kejadian Sepanjang 2025

Waktu Jembatan dan lokasi Yang mengerjakan
6 Juli 2025 Jembatan Bungen, Desa Bialo, Gantarang Warga, lewat patungan dan gotong royong
15 Juli 2025 Jembatan utama Desa Bialo, Gantarang Sedang diperbaiki, titian bambu sebagai jalur sementara
17 Juli 2025 Ruas Lassanru-Pattonga, Tugondeng, Herlang Perbaikan darurat oleh pemerintah desa dan warga
21 September 2025 Jalan Raside, Dusun Seka, Bontonyeleng, Gantarang Pemerintah desa, lewat pengukuran volume

Daftar ini memuat kejadian yang sempat diberitakan sepanjang 2025, bukan seluruh jembatan rusak di kabupaten ini. Tiga dari empatnya terjadi dalam rentang dua pekan pada Juli, yaitu sesudah banjir.

Ratusan Warga Patungan Semen dan Pasir

Jembatan Bungen di Desa Bialo, Kecamatan Gantarang, putus akibat banjir. Pada 6 Juli 2025, ratusan warga desa itu bergotong royong membangunnya kembali.

Kepala Desa Bialo, Miftahuddin, menyebut masyarakat patungan membeli material berupa semen, pasir, dan kebutuhan lain. Menurutnya hal itu berjalan tanpa dikomandoi maupun dikoordinasi lebih dulu.

Yang terlibat bukan hanya laki-laki. Ia menyebut puluhan perempuan ikut kerja bakti, termasuk mengangkat bahan campuran. Di akhir keterangannya, ia berharap masih ada bantuan dari pihak luar untuk pembangunan jembatan tersebut.

Titian Bambu untuk Berangkat Sekolah

Sembilan hari kemudian, di desa yang sama, puluhan siswa menyeberangi Sungai Bialo memakai jembatan darurat untuk sampai ke sekolah. Jembatan utama yang menghubungkan permukiman dengan fasilitas umum rusak parah akibat banjir sebelumnya.

Seorang siswi SMP Negeri 4 Bulukumba, yang meminta namanya tidak disebutkan, menerangkan jembatan utama baru saja dicor sehingga belum bisa dilewati karena masih basah. Hari itu merupakan hari pertama mereka memakai jalur sementara.

Titian daruratnya hanya terbuat dari batang bambu. Ia menyebut ada rasa takut karena jembatannya goyang saat dilintasi, sementara arus sungainya deras. Warga umum juga memakai jalur yang sama. Soal sungai itu sendiri dibahas di catatan Sungai Bialo Bulukumba.

Ketika yang Ambruk Jalan Kabupaten

Pada Kamis pagi, 17 Juli 2025, sekitar pukul 07.00 WITA, sebuah jembatan beton ambruk dan melumpuhkan kegiatan warga Desa Tugondeng dan Karassing di Kecamatan Herlang. Warga Dusun Lassanru dan Bontosura paling terdampak.

Kepala Desa Tugondeng, Sirajuddin, menegaskan jembatan itu bagian dari ruas jalan kabupaten, tepatnya Ruas Lassanru-Pattonga. Status itu berarti kewenangan perbaikannya berada di pemerintah kabupaten, bukan desa.

Penyebabnya diduga arus air yang deras akibat hujan sebelumnya, ditambah usia jembatan yang sudah cukup tua. Meski ruas kabupaten, perbaikan darurat tetap dikerjakan pemerintah desa bersama warga, sebatas agar kendaraan roda dua dan pejalan kaki bisa lewat.

Jalur Keluhan yang Berfungsi

Kasus keempat menunjukkan jalur resmi bisa berjalan. Jembatan di Jalan Raside, Dusun Seka, Desa Bontonyeleng, Kecamatan Gantarang, dikeluhkan warga karena roboh, dan keluhan itu ditindaklanjuti pemerintah desa pada 21 September 2025.

Kepala Desa Bontonyeleng, Andi Mauragawali, menyatakan sudah meminta kepala dusun bersama RT dan RW turun mengukur volume jembatan agar bisa dikerjakan pada tahun itu juga. Jembatan tersebut merupakan akses warga menuju jalan poros.

Keluhan awalnya disampaikan Emi, warga Jalan Raside berumur 25 tahun, kepada pemerintah dusun. Urutan itu, yakni warga melapor ke dusun lalu diteruskan ke desa, adalah satu-satunya contoh dalam arsip di mana jalur resmi tercatat bekerja dari awal.

Yang Belum Tersedia

Jumlah jembatan di Bulukumba beserta kondisinya tidak tersedia dalam arsip pemberitaan. Tanpa daftar itu, empat kejadian pada 2025 tidak bisa ditempatkan sebagai keadaan umum atau justru pengecualian.

Hasil akhir dari tiap kejadian juga tidak terlacak. Tidak ada laporan lanjutan yang menyatakan jembatan Ruas Lassanru-Pattonga sudah diperbaiki secara permanen, atau apakah jembatan Jalan Raside benar dikerjakan pada tahun itu.

Satu hal perlu diperiksa sendiri: daftar ruas jalan dan jembatan kabupaten beserta anggaran pemeliharaannya. Status ruas menentukan siapa yang wajib memperbaiki, dan tanpa itu warga mudah dibiarkan menanggung sendiri pekerjaan yang sebenarnya bukan tanggungannya. ***

Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.