Ringkasan
- Bangunan penahan yang ambruk pada 2025 berada di tepi sungai, sementara pemicunya menurut catatan petugas berupa luapan banjir.
- Air laut pasang merendam permukiman di tepi pantai kota setiap tahun, dan kepala lingkungan menyebutnya makin parah.
- Warga membuat penahan sendiri di bibir pantai karena tidak ada bangunan permanen yang melindungi lingkungan mereka.
BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Dua persoalan berbeda sering disebut bersamaan di pesisir kota Bulukumba. Pertama, tanggul sepanjang sekitar 75 meter yang ambruk di Kelurahan Tanah Kongkong pada Juli 2025. Kedua, banjir rob yang berulang tiap tahun di Lingkungan Kasimpureng, yang pada Desember 2022 mencapai ketinggian 40 sentimeter di permukiman warga.
Tujuh Puluh Lima Meter yang Ambruk
Pada Sabtu, 5 Juli 2025, sekitar 75 meter tanggul ambruk di pesisir Jalan Menara, Kelurahan Tanah Kongkong, Kecamatan Ujung Bulu. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bulukumba, Abdul Haris, menyatakan telah melihat langsung panjang kerusakan itu di lokasi.
Akibatnya, ratusan rumah warga di sekitar aliran Sungai Bialo terancam terendam banjir. Sungai itu sendiri dibahas terpisah di catatan Sungai Bialo Bulukumba.
BPBD Bulukumba meninjau lokasi dan mengimbau warga pesisir lebih waspada saat air pasang bersamaan dengan curah hujan tinggi. Dua keadaan itu memang kerap datang berbarengan di muara.
Nama Bangunan dan Penyebab yang Tidak Sejalan
Satu hal perlu dibaca cermat. Bangunan yang ambruk itu disebut sebagai penahan ombak, tetapi letaknya di pesisir sungai dan penyebab yang dicatat petugas adalah hantaman luapan air saat banjir, bukan gelombang laut.
Perbedaan itu penting karena menentukan jalan keluarnya. Bangunan yang rusak oleh arus sungai dari arah hulu memerlukan penanganan yang berbeda dari bangunan yang rusak oleh gelombang dari arah laut.
Rubrik.co.id tidak bisa memastikan mana yang benar dari laporan yang tersedia, sebab keduanya disebut dalam satu berita yang sama. Yang bisa dinyatakan hanya bahwa lokasinya berada di titik pertemuan sungai dan laut, tempat kedua tenaga itu sama-sama bekerja.
Banjir Rob yang Datang Tiap Tahun
Persoalan kedua sifatnya berulang. Pada Sabtu malam, 24 Desember 2022, ratusan kepala keluarga di Lingkungan Kasimpureng, Kelurahan Kasimpureng, Kecamatan Ujung Bulu, terendam banjir rob.
Ketinggian air di permukiman mencapai 40 sentimeter, dengan puncaknya sekitar pukul 23.30 WITA. Kepala Lingkungan Kasimpureng, Andi Indra Bangsawan, menyebut sekitar 200 kepala keluarga terkena dampaknya.
Menurutnya, banjir yang disebabkan air laut pasang itu terjadi setiap tahun dan terasa semakin parah. Tahun itu bahkan di luar perkiraan, sebab sempat diduga tidak akan terjadi tetapi justru lebih besar.
Penyebab yang disebutnya adalah pergantian musim barat. Taksiran kerugian warga setiap kali rob datang disebutnya mencapai puluhan juta rupiah, meski tidak dirinci asal perhitungannya.
Penahan Buatan Warga Sendiri
Yang paling banyak menjelaskan keadaan di Kasimpureng justru cara warga bertahan. Andi Indra Bangsawan menyatakan masyarakat setempat hanya bisa mengatasi banjir dengan cara seadanya, yaitu membuat tanggul di bibir pantai.
Kalimat itu menyiratkan tidak adanya bangunan pelindung permanen di lingkungan tersebut pada saat kejadian. Arsip pemberitaan tidak memuat keterangan apakah bangunan semacam itu kemudian dibangun sesudahnya.
Pola yang sama muncul di tempat lain di Bulukumba, yakni penanganan darurat dikerjakan warga lebih dulu sebelum ada penanganan dari dinas. Peta wilayah yang rawan terhadap gerakan air dan pengikisan pantai dimuat di catatan rawan longsor dan abrasi.
Yang Belum Tersedia
Panjang garis pantai Bulukumba yang sudah terpasang bangunan pelindung tidak tersedia dalam arsip, begitu pula panjang yang belum terlindungi. Tanpa dua angka itu, kerusakan 75 meter di Tanah Kongkong tidak bisa ditempatkan dalam ukuran yang lebih besar.
Catatan ketinggian rob per tahun juga belum ada. Pernyataan bahwa banjir rob semakin parah berasal dari pengamatan kepala lingkungan, bukan dari pengukuran berseri, dan tulisan ini tidak memperlakukannya sebagai data.
Dua hal perlu diperiksa sendiri: apakah tanggul yang ambruk pada 2025 sudah diperbaiki, dan apakah ada rencana bangunan pelindung permanen untuk Kasimpureng. Keduanya ada di dinas pekerjaan umum serta balai wilayah sungai, bukan di pemberitaan. ***
Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.
