Daerah  

Kekeringan dan Ancaman Puso di Sawah Bulukumba

Redaksi Rubrik
Hamparan padi muda tumbuh jarang di atas tanah sawah yang retak dan tidak tergenang air, dengan barisan pohon serta rumah di kejauhan, serta teks judul "Sawah Kekurangan Air" dan label Rubrik.co.id - Daerah di bagian atas gambar
Ilustrasi sawah yang mengering setelah dua pekan tanpa hujan. Berkasnya tidak menyebut lokasi pengambilan, dan bukan diambil di Bulukumba. Foto: Joko Wardani / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

Ringkasan

  • Lahan sawah yang kekurangan air pada paruh kedua Agustus 2026 tercatat lebih dari enam ratus hektare di berbagai kecamatan.
  • Petani menyalakan pompa berminggu-minggu dan dibatasi membeli lima puluh liter solar sehari, dengan ongkos sekitar seratus ribu rupiah.
  • Seorang petani di Rilau Ale mengganti siraman air dengan potongan batang pisang yang diletakkan di pangkal pohonnya.

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Kekeringan memukul sawah di Bulukumba lewat tiga jalur sekaligus, yaitu debit irigasi yang menyusut, tanggul saluran yang jebol, dan biaya pompa yang membengkak. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mencatat 662,17 hektare lahan terdampak kekurangan air pada 16 sampai 31 Agustus 2026, tersebar di 49 desa dan delapan kecamatan.

Angka Terukur dari Agustus 2026

Catatan paling rinci yang tersedia berasal dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bulukumba untuk periode dua pekan terakhir Agustus 2026. Luas yang terdampak kekurangan air 662,17 hektare, melibatkan 67 kelompok tani di 49 desa.

Delapan kecamatan masuk dalam catatan itu, di antaranya Gantarang, Ujung Loe, Kindang, Bontotiro, Herlang, dan Kajang. Sebarannya yang melintasi dataran tinggi sekaligus pesisir menunjukkan persoalannya tidak terbatas pada satu jenis lahan.

Perlu dibedakan dari krisis air rumah tangga, yang dihitung dengan satuan berbeda dan ditangani lembaga berbeda. Soal itu dibahas di catatan krisis air bersih Bulukumba.

Biaya Pompa dan Antrean Bahan Bakar

Pada September 2026, petani menghadapi dua beban bersamaan. Yusuf, petani di Desa Bontosunggu, Kecamatan Gantarang, menyebut pompa airnya sudah lebih dari dua pekan menyala terus-menerus untuk mengairi sawah.

Masalahnya bukan hanya air. Ia hanya diperbolehkan membeli 50 liter solar dalam sehari, dan mengeluarkan sekitar Rp100 ribu setiap hari untuk bahan bakar agar tanaman padinya tetap hidup.

Antrean di stasiun pengisian bahan bakar menambah waktu yang hilang. Dengan kata lain, kekeringan pada tahun itu tidak hanya diukur dari hektare lahan, tetapi juga dari ongkos harian yang harus ditanggung petani untuk melawannya.

Irigasi yang Menyusut dan Tanggul yang Jebol

Dua kejadian lama menunjukkan jalur kerusakan yang berbeda. Pada Februari 2021, ratusan hektare tanaman padi muda di Kecamatan Gantarang terancam gagal panen karena debit irigasi berkurang. Desa yang disebut antara lain Bontonyeleng dan Bukit Harapan.

Hasanuddin, petani asal Bontonyeleng, menyatakan hujan tidak turun lebih dari sebulan sehingga debit air irigasi menyusut drastis dan pasokan ke sawah tidak lagi berjalan normal.

Pada Maret 2023, penyebabnya justru kerusakan bangunan. Tanggul saluran irigasi primer Daerah Irigasi Bontomanai di Kecamatan Rilau Ale jebol, dan dampaknya terasa sampai Desa Tanah Harapan, Padanloang, Bontomanai, serta Bululohe.

Penanganan daruratnya dikerjakan warga sendiri. Kepala Desa Tanah Harapan Arifin Para bersama Kepala Desa Bontomanai Risman dan warga membeli tanah timbunan, memasukkannya ke karung, lalu menyusunnya sebagai tanggul sementara. Pengamat dinas PSDA Bulukumba dan BPP Parukku ikut turun ke lokasi. Keadaan jaringan irigasi secara umum dibahas di catatan irigasi Bulukumba.

Cara Bertahan yang Pernah Dipakai

Tidak semua jalan keluar berupa bangunan atau mesin. Pada September 2023, seorang petani cengkeh berumur 55 tahun yang dikenal dengan panggilan Om Ciking, warga Desa Bontobangun, Kecamatan Rilau Ale, memakai batang pisang sebagai pengganti air untuk tanaman cengkehnya.

Caranya sederhana. Batang pisang dipotong sepanjang kira-kira satu meter, lalu dibelah menjadi empat bagian, dan diletakkan di pangkal pohon cengkeh. Ia menyebut idenya muncul karena melihat batang pisang di kebunnya terbuang percuma.

Cara ini perlu dibaca sebagai pengalaman satu orang, bukan anjuran teknis. Tidak ada pengujian atau keterangan dinas pertanian dalam laporan tersebut yang mengukur seberapa besar pengaruhnya terhadap tanaman.

Jalan keluar lain yang dipakai di Bulukumba adalah pengeboran sumur untuk sawah kering, yang dibahas di catatan terpisah.

Yang Belum Tersedia

Luas sawah yang benar-benar gagal panen tidak tersedia untuk tahun mana pun. Catatan yang ada menyebut lahan terancam atau terdampak kekurangan air, dan itu bukan hal yang sama dengan puso yang sudah terjadi.

Angka pembanding antartahun juga belum ada. Tanpa seri beberapa musim berturut-turut, tidak bisa dinyatakan apakah 662 hektare pada Agustus 2026 termasuk besar atau biasa saja untuk kabupaten ini.

Satu hal perlu diperiksa sendiri: berapa bagian sawah Bulukumba yang bergantung pada irigasi teknis dan berapa yang mengandalkan hujan. Perbandingan itu menentukan seberapa dalam kemarau menggigit, dan sumbernya ada di Dinas Pertanian serta dinas pengairan, bukan di pemberitaan. ***

Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.