Iran: Selat Hormuz Ditutup hingga AS Penuhi Komitmen

Redaksi Rubrik
Citra satelit Selat Hormuz: perairan biru gelap menyempit di antara daratan gurun kecokelatan Iran di utara dan semenanjung Musandam yang berbukit di selatan, dengan gugusan pulau kecil di tengah selat
Citra satelit Selat Hormuz (arsip NASA, ilustrasi). Foto: MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC / Wikimedia Commons, domain publik

Rubrik.co.id – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi komitmen dalam kesepakatan Juni 2026 serta persyaratan yang diajukan Teheran. Pernyataan itu disampaikan di hadapan parlemen pada Minggu, 20 September 2026, dilaporkan kantor berita Anadolu yang dikutip ANTARA mengacu pada siaran penyiar pemerintah Iran, IRIB.

“Pihak lawan sangat menyadari bahwa upaya penipuan dan pemaksaan sepihak telah tertutup. Sampai persyaratan ini dipenuhi, hak-hak sah rakyat Iran diakui, dan komitmen Amerika dipenuhi, tidak akan ada peluang untuk kembali ke kondisi perundingan sebelumnya atau membuka kembali Selat Hormuz,” kata Qalibaf dalam terjemahan ANTARA.

Qalibaf menyebut persyaratan Iran sudah disampaikan kepada pihak lawan melalui perantara. Sehari sebelumnya, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaee menulis di media sosial X bahwa negaranya mengajukan tujuh syarat kepada pemerintah AS sebagai prasyarat perundingan. Laporan itu bersumber dari kantor berita Sputnik/RIA Novosti.

Peta topografi Selat Hormuz bertuliskan Strait of Hormuz di tengah perairan biru, menampilkan garis pantai Iran di utara, Semenanjung Musandam di selatan, serta garis putus-putus jalur pelayaran
Peta Selat Hormuz dan jalur pelayarannya (ilustrasi). Peta: OpenStreetMap / Wikimedia Commons, CC BY 4.0

Klaim Berbeda dari Washington

Dari pihak Amerika Serikat, Kepala Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper pada Sabtu, 19 September 2026 mengeklaim pasukannya telah membantu pengiriman lebih dari satu miliar barel minyak mentah keluar dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir, serta mengawal lebih dari 2.000 kapal komersial. Klaim itu disampaikan lewat pesan video di media sosial X dan dilaporkan ANTARA mengutip Sputnik.

Rubrik.co.id tidak dapat memverifikasi secara independen klaim kedua pihak. Keduanya disajikan sebagai pernyataan masing-masing, bukan sebagai fakta yang sudah terkonfirmasi.

Ketegangan ini bermula dari serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 dan serangan balasan Iran. Kesepakatan penghentian operasi militer yang dicapai pada Juni 2026, termasuk pengaturan pembukaan kembali Selat Hormuz, kemudian gagal karena perselisihan soal pengaturan pelayaran dan keamanan.

Kenapa Penting bagi Sulawesi Selatan

Selat Hormuz adalah jalur utama pengapalan minyak mentah, produk turunan minyak bumi, dan gas alam cair dari Teluk ke pasar global. Tersendatnya jalur itu membuat harga bahan bakar melonjak di banyak negara.

Indonesia bukan pengecualian. Antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar sudah berlangsung berminggu-minggu di Sulawesi Selatan, sampai Pemprov mengusulkan tambahan kuota BBM 30 persen dan menerapkan ganjil-genap sementara. Dampaknya merembet ke sektor pangan, terlihat dari protes petani Bulukumba yang membawa mesin combine ke DPRD dan 662 hektare sawah terdampak kemarau serta antrean bahan bakar.

Selama status Selat Hormuz belum berubah, tekanan pada pasokan dan harga bahan bakar di daerah berpotensi bertahan.