Daerah  

Porang Bulukumba: Cara Tanam dan Pabriknya

Redaksi Rubrik
Satu tanaman porang dengan daun memanjang menyebar seperti payung dari satu batang berbintik, tumbuh di atas tanah berpasir, dengan teks judul "Tanaman Porang" dan label Rubrik.co.id - Lingkungan di bagian atas gambar
Ilustrasi tanaman porang (Amorphophallus muelleri) beserta bentuk daunnya yang khas, bukan diambil di Bulukumba. Foto: Dmoersid / Wikimedia Commons, CC BY 4.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

Ringkasan

  • Umbi ini menarik warga karena lahan kosong bisa dipakai dan pembelinya sudah tersedia di dalam kabupaten.
  • Syarat tumbuhnya cukup jelas, yakni tanah yang lembap tetapi tidak sampai tergenang, sehingga pembuangan airnya harus lancar.
  • Harganya bergerak sangat tajam, dan sempat muncul tuntutan agar tempat pengolahannya ditutup pada pertengahan tahun 2025 lalu.

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Porang adalah tanaman umbi-umbian yang berkembang di Kabupaten Bulukumba, antara lain di Kecamatan Kindang, dan ditanam warga di lahan kosong karena ada pabrik pengolahan di dalam kabupaten. Syarat utamanya tanah lembap dengan drainase baik. Harganya naik turun tajam, dan pabriknya sempat jadi sasaran tuntutan penutupan. Artikel ini memuat cara tanam, pembeli, dan persoalannya.

Kenapa Warga Beralih Menanamnya

Porang mulai diminati karena dua hal yang datang bersamaan: harganya dinilai mahal dan ada pabrik pengolahan di kabupaten ini.

Pada Juli 2025, sejumlah petani disebut beralih menanam porang dibanding komoditas lain seperti cengkeh dan kopi, salah satunya di Kecamatan Kindang.

Daya tariknya bukan hanya harga. Lahan kosong yang selama ini menganggur bisa dipakai, sehingga modal lahannya nyaris nol.

Syarat Tumbuh dan Pemilihan Bibit

Hal pertama yang disebut penting adalah bibitnya. Bibit harus berkualitas dan bebas penyakit, dan keadaan umbinya perlu diperiksa sebelum ditanam.

Syarat lahannya spesifik. Porang tumbuh baik di tanah yang cukup lembap, tetapi saluran pembuangan airnya harus baik agar air tidak tergenang.

Genangan justru merusak tanamannya. Karena itu pengolahan tanah dan pemupukan dilakukan sebelum penanaman dimulai.

Warga disebut tidak segan mengeluarkan biaya besar untuk mendapat bibit yang hasilnya baik dan siap jual.

Harga yang Bergerak Tajam

Sisi yang paling tidak pasti adalah harganya. Pada Mei 2025, petani porang dan kakao sempat menikmati kenaikan harga.

Dua bulan kemudian keadaannya berbalik. Pada 19 Juli 2025, harga porang bertahan di Rp11.000 per kilogram setelah turun dari Rp13.000.

Seorang pedagang asal Belimbing, Kecamatan Rilau Ale, menyebut cengkeh pada periode yang sama ikut turun. Artinya guncangan harga tidak hanya menimpa satu komoditas.

Tuntutan Penutupan Pabrik

Pada pertengahan Juli 2025 muncul aksi yang menuntut penutupan pabrik porang di Bulukumba, termasuk pabrik di Desa Dampang, Kecamatan Gantarang.

Ketua Forum Kajian Kebijakan Publik Panrita Lopi, Muhris Arif, menilai aksi itu tidak objektif dan menyayangkan tuntutan disampaikan tanpa pemeriksaan lapangan lebih dulu.

Satu catatan penting untuk pembaca: laporan yang tersedia memuat penilaian dari pihak yang menolak tuntutan itu, sementara alasan yang diajukan para pengunjuk rasa tidak ikut tercatat di dalamnya. Pemberitaannya karena itu sepihak, dan tulisan ini tidak bisa menilai siapa yang benar.

Yang tercatat jelas hanya akibatnya, yakni aktivitas pabrik sempat terhenti.

Yang Belum Diketahui

Tiga hal tidak tersedia. Berapa luas tanaman porang di Bulukumba, berapa pabrik pengolahannya dan di mana saja, serta apa isi keberatan warga terhadap pabrik itu.

Porang juga tidak muncul dalam daftar komoditas perkebunan rakyat terbesar kabupaten, yang dipimpin kakao dan cengkeh. ***

Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.