Ringkasan
- Yang ditanam bukan sekadar peneduh, melainkan jenis berbuah yang hasilnya bisa dipetik langsung oleh warga sekitarnya.
- Alasannya sengaja digabung, yakni memperbaiki ekosistem sekaligus menambah pasokan pangan sampai ke tingkat rumah tangga warga.
- Hambatan terbesarnya bukan soal bibit maupun lahan, melainkan pohon muda yang dirusak orang tidak lama setelah ditanam.
BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Program penghijauan Pemkab Bulukumba memakai pohon produktif, yakni jenis berbuah seperti mangga, sukun, jambu kapas, dan alpukat, bukan tanaman peneduh semata. Tujuannya digabungkan antara memperbaiki ekosistem dan menambah pasokan pangan warga. Artikel ini memuat jenis yang dipilih, alasannya, dan hambatan yang berulang.
Pohon yang Dipilih dan Alasannya
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bulukumba menanam pohon produktif atas inisiatif Bupati Andi Muchtar Ali Yusuf. Komisi III DPRD Bulukumba mengapresiasi program itu pada Mei 2025.
Jenis yang ditanam antara lain mangga, sukun, jambu kapas, dan alpukat. Keempatnya bernilai ekonomi dan hasilnya bisa langsung dimanfaatkan warga.
Tujuan yang disebut ada dua sekaligus: memperbaiki ekosistem dan meningkatkan kesejahteraan lewat pemanfaatan hasil tanamannya.
Ditanam di Ruang Umum
Penanaman tidak selalu di hutan atau lahan kosong. Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2025, Bupati Andi Muchtar Ali Yusuf memimpin penanaman pohon produktif di seputaran lapangan sepak bola H. Andi Sulthan Daeng Radja, Ponre.
Bupati menyebut tanaman di area lapangan itu nantinya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat umum, dan mengaitkannya dengan program ketahanan pangan daerah.
Sukun di Sepanjang Pesisir
Rencana yang paling luas disampaikan pada Maret 2025. Di hadapan warga Gusunge, Kelurahan Jalanjang, bupati mengajak menanam sukun dari Gusunge sampai perbatasan Kabupaten Bantaeng.
Syaratnya disebut terbuka: bibit disiapkan, tetapi warga harus memelihara sampai pohonnya besar dan membuat kerangkeng agar tidak dimakan kambing.
Alasan memilih sukun juga disebut, yakni selain untuk penghijauan, buahnya bernilai ekonomi dan bisa diolah menjadi tepung pengganti beras.
Hambatan yang Berulang
Hambatan terbesarnya bukan pengadaan bibit. Pada Mei 2020, Kepala BPBD Bulukumba saat itu, Andi Akrim, mengeluhkan banyak warga justru merusak pohon penghijauan yang sudah ditanam di dalam kota.
Pohonnya dipatahkan, sebagian bahkan sengaja dirusak. Andi Akrim menilai perilaku itu berhubungan dengan kurangnya pemahaman akan fungsi pohon.
Keterangan itu berumur lima tahun lebih tua daripada program pohon produktif, tetapi menjelaskan kenapa syarat pemeliharaan terus disebut setiap kali bibit dibagikan.
Kaitannya dengan Program Lain
Penghijauan di Bulukumba tidak berdiri sendiri. Penanaman mangrove di pesisir Ujung Loe dimuat terpisah dalam catatan mangrove Bulukumba.
Di tingkat kampung, upaya adaptasi dan mitigasi dinilai lewat Program Kampung Iklim, dan empat lokasi di kabupaten ini pernah meraih kategori tertinggi. Daftarnya ada di catatan empat kampung iklim utama.
Pada Juli 2025, Bupati Bulukumba juga menjadi narasumber di Green Leadership Forum II Sulawesi Selatan.
Satu angka tidak tersedia: berapa batang pohon produktif yang sudah ditanam seluruhnya, dan berapa persen di antaranya yang bertahan hidup. ***
Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.
