Daerah  

Gelombang Tinggi di Perairan Bulukumba

Redaksi Rubrik
Barisan ombak putih pecah di perairan dangkal berbatu di depan pantai berpasir, dengan tebing berpohon di sisi kanan dan sebuah perahu kecil di kejauhan, serta teks judul "Ombak Pecah di Pantai" dan label Rubrik.co.id - Daerah di bagian atas gambar
Ilustrasi ombak yang pecah di pantai berbatu, diambil di Pantai Menganti, Jawa Tengah, bukan di perairan Bulukumba. Foto: Link PB / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

Ringkasan

  • Lintasan kapal dari Bira menuju Selayar adalah lokasi yang berulang dinyatakan terdampak setiap kali peringatan dini laut terbit.
  • Badan penanggulangan bencana daerah berperan meneruskan peringatan meteorologi, bukan mengukur sendiri ketinggian ombak di perairan setempat.
  • Dua anak buah kapal asal Kecamatan Herlang pernah selamat setelah perahunya terbalik dihantam ombak besar pada Juli 2024.

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Peringatan gelombang tinggi untuk Bulukumba sampai ke warga melalui BPBD, yang meneruskan peringatan dini dari BMKG. Titik yang paling sering disebut adalah penyeberangan Bira menuju Pamatata, jalur kapal ke Kepulauan Selayar. Pada 23 sampai 24 Desember 2022, ketinggian gelombang di lintasan itu diperkirakan 2,5 hingga 4 meter dan disertai angin kencang.

Lintasan yang Paling Cepat Terdampak

Bulukumba berbatasan dengan laut di sisi timur dan selatan, tetapi satu titik yang selalu muncul dalam peringatan adalah pelabuhan penyeberangan di Bira, Kecamatan Bonto Bahari. Dari sana kapal menyeberang ke Pamatata di Kepulauan Selayar, dan jalur itu melintasi perairan terbuka.

Kepala BPBD Bulukumba Andi Akrim Amir menyebutkan isi peringatan dini yang diterimanya pada akhir Desember 2022 menyangkut lintasan tersebut secara khusus, bukan pesisir Bulukumba secara umum. Rincian kapal, jarak, dan waktu tempuh lintasan ini dibahas dalam catatan terpisah soal penyeberangan Bira–Pamatata.

Pada peringatan yang sama, BPBD juga mengingatkan risiko di darat. Angin kencang yang menyertai hujan membuat warga diimbau tidak berteduh di bawah pohon, sebab pohon rawan tumbang masih banyak berdiri di tepi jalan. Soal itu sudah ditulis terpisah dalam catatan pohon tumbang dan angin kencang.

Tingkatan Ketinggian dalam Peringatan BMKG

Peringatan gelombang BMKG disusun berjenjang menurut perkiraan ketinggiannya, dan tiap jenjang mencantumkan daftar perairan yang diperkirakan masuk kategori itu.

Perkiraan ketinggian Keterangan
1,25–2,5 meter Jenjang yang mencakup paling banyak wilayah perairan dalam satu rilis
2,5–4 meter Jenjang yang dipakai pada peringatan lintasan Bira–Pamatata Desember 2022

Jenjang di atas dikutip dari rilis Pusat Meteorologi Maritim BMKG pada 13 November 2023. Perlu dicatat bahwa rilis tanggal itu tidak memuat perairan Sulawesi Selatan bagian selatan dalam daftarnya, jadi angkanya dipakai di sini hanya untuk menerangkan cara peringatan disusun, bukan sebagai keterangan tentang perairan Bulukumba pada tanggal tersebut.

Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo menjelaskan pemicu gelombang pada rilis itu adalah pola angin. Di wilayah Indonesia bagian selatan, angin umumnya bergerak dari timur dan selatan dengan kecepatan 6 sampai 20 knot.

Peran BPBD dan Batasnya

BPBD Bulukumba tidak mengeluarkan angka ketinggian gelombang sendiri. Yang dikerjakannya adalah menerima peringatan dini dari BMKG lalu meneruskannya ke warga, serta berkoordinasi dengan lembaga lain ketika sudah ada kejadian.

Pembagian itu penting untuk dipahami. Pertanyaan soal berapa tinggi ombak hari ini jawabannya ada di BMKG, sedangkan pertanyaan soal apa yang harus dilakukan dan siapa yang menolong ditangani BPBD bersama Basarnas, TNI AL, dan Polairud.

Dua Kejadian yang Melibatkan Warga Bulukumba

Pada 17 Juli 2024, sebuah perahu nelayan terbalik dan tenggelam di perairan Kepulauan Selayar sekitar pukul 07.00 WITA. Dua anak buah kapal di atasnya, Muh Atas dan Safari, berumur 19 dan 44 tahun, merupakan warga Turungan Beru, Kecamatan Herlang.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bulukumba, Abdul Haris, menyebut derasnya ombak membuat perahu kedua korban terhantam lalu terbalik. BPBD Bulukumba berkoordinasi dengan BPBD Selayar, dan keduanya ditemukan selamat lalu dibawa ke puskesmas terdekat di Selayar.

Kejadian kedua terjadi pada akhir September 2026. Slamet, 50 tahun, berangkat memancing seorang diri dari Bira pada 30 September 2026 sekitar pukul 16.00 WITA dan tidak kembali. Operasi pencarian pada hari keempat membagi area seluas 88 mil laut persegi ke tiga unit. Perlu ditegaskan bahwa penyebab hilangnya tidak dinyatakan dalam laporan pencarian, sehingga kejadian itu tidak bisa disebut akibat gelombang tinggi.

Yang Belum Tersedia

Rekaman ketinggian gelombang di perairan Bulukumba per kejadian tidak tersedia untuk publik dalam bentuk arsip. Yang bisa ditelusuri hanya angka perkiraan yang sempat dikutip media saat peringatan dikeluarkan, bukan hasil pengukuran sesudahnya.

Jumlah hari dalam setahun ketika penyeberangan Bira dihentikan karena cuaca juga belum terdata. Angka itu yang paling berguna bagi penumpang dan nelayan, dan sumbernya ada di pengelola pelabuhan penyeberangan, bukan di pemberitaan.

Topik laut lain yang sudah dibahas terpisah: program seribu rumpon untuk nelayan dan Kampung Nelayan Merah Putih di Bentenge. ***

Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.