Ringkasan
- Pemantauan harga di Bulukumba dikerjakan sepekan sekali, dan hanya dua pasar yang dijadikan sampel tetap oleh dinas terkait.
- Cabai kecil pernah naik sekitar dua kali lipat menjelang puasa 2022, lalu tercatat jauh lebih rendah tiga tahun kemudian.
- Produksi cabai rawit tingkat provinsi melampaui kebutuhan konsumsinya, tetapi sebagian hasil panen dibawa keluar Sulawesi Selatan.
BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Harga cabai di Bulukumba dipantau Dinas Perdagangan dan Perindustrian setiap hari Senin, dengan Pasar Sentral dan Pasar Cekkeng sebagai sampel tetapnya. Catatan yang pernah dipublikasikan memuat dua keadaan berbeda, yaitu lonjakan menjelang Ramadan 2022 hingga Rp65 ribu per kilogram, dan harga yang jauh lebih tenang pada pertengahan 2025.
Cara Dinas Memantau Harga Pasar
Pengawasan harga bahan pokok di Bulukumba berjalan rutin dengan jadwal tetap. Kepala Bidang Pengembangan Pasar dan Kemetrologian Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Bulukumba, Andi Mirza Milanie, menjelaskan timnya turun ke pasar setiap awal pekan.
Dua lokasi dipakai sebagai sampel, yakni Pasar Sentral dan Pasar Cekkeng. Keduanya berada di pusat kabupaten, dan dari sanalah angka pekanan itu dilaporkan.
Pasar tradisional lain di kecamatan dan desa juga didatangi, tetapi menurut keterangan Andi Mirza tidak dengan jadwal yang sama rutin. Itu berarti harga di pasar kecamatan tidak selalu terwakili oleh angka yang dipublikasikan setiap pekan.
Harga Cabai yang Pernah Tercatat
| Jenis | Maret 2022 | Awal Juli 2025 |
|---|---|---|
| Cabai kecil | Rp60.000–Rp65.000 per kg | Rp40.000 per kg |
| Cabai keriting | Tidak disebut | Rp25.000 per kg |
| Cabai besar | Tidak disebut | Rp15.000 per kg, turun Rp5.000 |
| Bawang merah | Rp25.000 per kg | Tidak disebut |
Harga normal cabai kecil sebelum lonjakan 2022 disebut berada di kisaran Rp30 ribu sampai Rp35 ribu per kilogram. Pedagang Pasar Sentral bernama Ikka menyatakan kenaikan saat itu sudah berjalan hampir sepekan dan menganggapnya hal biasa jelang bulan puasa.
Bawang merah bergerak lebih tajam secara persentase pada periode yang sama, dari Rp10 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram.
Satuan Liter dan Satu Angka yang Tidak Konsisten
Dua hal pada laporan harga Bulukumba perlu dibaca hati-hati. Tomat, baik tomat sayur maupun tomat buah, dilaporkan dalam satuan liter, bukan kilogram. Harganya tercatat bergerak dari Rp15 ribu menjadi Rp25 ribu per liter pada akhir Juni 2025. Satuan liter untuk tomat memang dipakai di perdagangan pasar setempat, sehingga angkanya tidak bisa langsung disetarakan dengan harga per kilogram di daerah lain.
Hal kedua adalah satu angka yang tidak masuk akal. Laporan Maret 2022 menuliskan harga daging ayam “mulai naik” tetapi angkanya bergerak turun. Karena pernyataan dan angkanya saling bertentangan di sumber aslinya, Rubrik.co.id tidak mencantumkan nilai itu di tulisan ini.
Lonjakan Jelang Ramadan dan Tim Pengendali Inflasi
Kenaikan harga menjelang Ramadan bukan kejadian sekali. Untuk mengantisipasinya, Pemerintah Kabupaten Bulukumba membentuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), yang diketuai langsung Bupati Andi Muchtar Ali Yusuf dengan Sekretaris Daerah Ali Saleng sebagai ketua harian.
Kepala Bagian Ekonomi Pembangunan Daerah Setda Bulukumba, Kusnadi Kamal, menjelaskan tugas tim itu meliputi pengumpulan data perkembangan harga, penyusunan kebijakan pengendalian inflasi, penguatan sistem logistik, dan penyelesaian hambatan di tingkat kabupaten.
Komoditas lain yang harganya dipantau pada periode yang sama termasuk kol, yang naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram, dan kopi, dari Rp65 ribu menjadi Rp70 ribu per kilogram. Kopi dari dataran Kindang sendiri sudah dibahas dalam tulisan terpisah soal robusta Bulukumba.
Keadaan Tingkat Provinsi
Pada Oktober 2026, harga cabai rawit merah di Makassar menyentuh Rp80 ribu sampai Rp85 ribu per kilogram. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan, Muhammad Ilyas, menyebut produksi cabai rawit provinsi ini 30.860 ton sedangkan kebutuhan konsumsi warganya sekitar 17.300 ton.
Produksi yang hampir dua kali kebutuhan itu membuat kenaikan harga tidak cukup dijelaskan oleh gagal panen. Menurut Ilyas, sebagian hasil panen dikirim ke luar provinsi karena harga di sana lebih baik, dan belum ada aturan yang melarangnya. Rinciannya dibahas di catatan soal pasokan cabai Sulsel yang keluar daerah.
Yang Belum Tersedia
Luas tanam dan hasil panen cabai di Bulukumba belum tersedia dalam arsip pemberitaan, sehingga tidak bisa dinyatakan apakah kabupaten ini pemasok atau justru pembeli dari daerah lain. Tanpa angka itu, posisi Bulukumba dalam arus cabai Sulawesi Selatan tidak dapat dipastikan.
Seri harga pekanan yang utuh juga tidak tersedia untuk publik. Yang bisa diakses hanya angka yang sempat diberitakan, bukan rekaman tiap Senin sepanjang tahun. Untuk melihat pergerakan harga secara utuh, datanya perlu diminta langsung ke Disdagrin Bulukumba. ***
Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.
