Daerah  

Kopi Robusta Bulukumba dan Dataran Kindang

Redaksi Rubrik
Seorang petani memegang serumpun buah kopi robusta yang sebagian sudah memerah dan sebagian masih hijau pada dahan berdaun lebat, dengan teks judul "Kopi Robusta" dan label Rubrik.co.id - Lingkungan di bagian atas gambar
Ilustrasi buah kopi robusta di kebun, diambil di Banjarnegara, Jawa Tengah, bukan di Bulukumba. Foto: Haridi123 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

Ringkasan

  • Jumlah keluarga yang menggarapnya nyaris menyamai cengkeh, padahal luas lahan yang tersedia kurang dari separuh milik cengkeh.
  • Hasil per hektarenya paling rendah di antara komoditas besar kabupaten, dan jarak selisihnya cukup jauh tertinggal di belakang.
  • Jenis yang terkenal dari kabupaten ini sebenarnya dua, dan keduanya tumbuh di dataran tinggi yang berbeda.

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Kopi robusta di Kabupaten Bulukumba tercatat seluas 3.305,4 hektare dengan produksi 416.450 kilogram biji kering dan 10.688 pekebun pada 2025. Jumlah penggarapnya terbesar ketiga setelah kakao dan cengkeh, meski luas lahannya jauh lebih kecil. Sentra yang paling dikenal berada di dataran tinggi Kecamatan Kindang. Artikel ini memuat angkanya dan pembandingnya.

Angka dan Susunannya

Yang mencolok dari kopi robusta bukan luasnya, melainkan jumlah orang yang menggarapnya.

Komoditas Luas areal 2025 Produksi 2025 Pekebun
Kakao 7.280 hektare 2.054.903 kg biji kering 11.048 KK
Cengkeh 6.904 hektare 1.727.328 kg bunga kering 10.145 KK
Kopi robusta 3.305,4 hektare 416.450 kg biji kering 10.688 KK

Angkanya berasal dari catatan produksi padi dan perkebunan kabupaten.

Luas kopi robusta kurang dari separuh luas cengkeh, tetapi penggarapnya justru lebih banyak. Artinya petak garapan per keluarga rata-rata jauh lebih kecil, sekitar sepertiga hektare.

Hasil per Hektare yang Paling Rendah

Perbandingan kedua lebih tajam lagi. Kakao menghasilkan sekitar 282 kilogram biji kering per hektare, cengkeh sekitar 250 kilogram bunga kering, sedangkan kopi robusta sekitar 126 kilogram biji kering.

Ketiga angka itu dihitung dari tabel di atas dan bukan angka resmi. Satuannya pun berbeda, jadi yang bisa dibandingkan hanya kedua komoditas yang sama-sama dihitung sebagai biji kering, yakni kakao dan kopi.

Selisih yang lebar itu bisa berasal dari umur tanaman, cara rawat, atau tumpang sari dengan tanaman lain. Rinciannya belum pernah diterbitkan.

Dua Kopi dari Dua Dataran Tinggi

Kabupaten ini punya dua kopi yang dikenal, dan keduanya berbeda jenis maupun tempat tumbuhnya.

Yang bervolume besar robusta, dengan sentra paling dikenal di Kecamatan Kindang. Pada 2020, wakil bupati saat itu mengajak warga mencintai produk lokal, dan Kindang disebut penghasil kopi terbaik di Bulukumba.

Yang kedua arabika dari Kahayya, yang statusnya sudah resmi sebagai indikasi geografis dan dimuat terpisah dalam catatan Kopi Arabika Kahayya.

Keduanya berada di wilayah dataran tinggi yang sama-sama masuk Kindang, tetapi arabika menuntut ketinggian lebih tinggi daripada robusta.

Yang Berpindah ke Komoditas Lain

Kopi bukan satu-satunya pilihan penggarap di dataran tinggi. Ketika harga berubah, sebagian petani berpindah tanaman.

Perpindahan semacam itu tercatat pada komoditas lain. Pada Juni 2025, sebagian petani beralih dari kakao ke merica setelah harga turun.

Yang Perlu Diperiksa Sendiri

Angka di atas berasal dari data 2025 dan diperbarui setahun sekali, sehingga keadaan terkini bisa berbeda.

Dua hal belum tersedia: sebaran luas kopi robusta per kecamatan, dan berapa bagian produksi yang dijual sebagai biji mentah dibanding yang diolah menjadi produk jadi di dalam kabupaten. ***

Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.