Daerah  

Lada Bulukumba: Luas, Hasil, dan Pekebunnya

Redaksi Rubrik
Barisan tanaman lada merambat pada tiang-tiang kayu di kebun berlereng, membentuk kerucut-kerucut hijau rapat berjajar, dengan teks judul "Kebun Lada" dan label Rubrik.co.id - Lingkungan di bagian atas gambar
Ilustrasi kebun lada yang merambat pada tiang kayu, diambil di Sarawak, Malaysia, bukan di Bulukumba. Foto: Nick Allen / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

Ringkasan

  • Lahannya tersempit di antara seluruh tanaman perkebunan yang didata, tetapi tetap digarap ribuan keluarga petani di kabupaten.
  • Satu kecamatan di wilayah dataran tinggi menjadikannya penanda daerahnya, berdampingan dengan tanaman rempah lain yang tumbuh serupa.
  • Sebagian penggarap berpindah ke tanaman ini justru ketika harga komoditas yang biasa mereka tanam sedang jatuh di pasaran.

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Lada di Kabupaten Bulukumba tercatat seluas 1.447 hektare dengan produksi 158.232 kilogram lada kering dan 2.989 pekebun pada 2025. Luasnya paling kecil di antara komoditas perkebunan rakyat yang didata, dan sentranya berada di Kecamatan Rilau Ale. Artikel ini memuat angkanya, sentranya, dan alasan sebagian petani berpindah ke tanaman ini.

Angka dan Posisinya

Lada berada di urutan paling bawah daftar komoditas perkebunan rakyat yang didata kabupaten, tetapi penggarapnya tetap ribuan keluarga.

Keterangan Angka 2025
Luas areal 1.447 hektare
Produksi 158.232 kg lada kering
Pekebun 2.989 keluarga
Rata-rata garapan sekitar 0,48 hektare per keluarga

Baris terakhir dihitung dari dua baris di atasnya dan bukan angka resmi. Angka aslinya dimuat dalam catatan produksi padi dan perkebunan kabupaten.

Hasilnya sekitar 109 kilogram lada kering per hektare, juga dihitung sendiri dari tabel di atas.

Sentra di Rilau Ale

Sentranya berada di Kecamatan Rilau Ale, yang profil wilayahnya menyebut cengkeh dan lada sebagai komoditas penandanya.

Kecamatan itu berada di wilayah dataran tinggi kabupaten, berdekatan dengan sentra cengkeh dan kopi. Ketiganya tumbuh pada ketinggian yang berdekatan, sehingga sering berada di kebun yang sama.

Tujuan Perpindahan Saat Harga Jatuh

Lada, yang di Bulukumba lebih sering disebut merica, menjadi tujuan perpindahan ketika komoditas lain sedang lesu.

Pada Juni 2025, sebagian petani beralih menanam merica setelah harga biji kakao turun dari sekitar Rp112 ribu menjadi Rp90 ribu per kilogram.

Perpindahan semacam itu tidak langsung berbuah. Lada butuh waktu beberapa tahun sebelum panen pertama, sehingga keputusan berpindah saat harga jatuh baru terasa hasilnya jauh setelah harga bergerak lagi.

Berbeda dari Komoditas Utama

Dibanding tiga komoditas terbesar kabupaten, posisi lada khas: luasnya kecil, penggarapnya sedang, dan nilainya per kilogram relatif tinggi.

Perbandingan lengkapnya ada pada catatan masing-masing, yakni kakao sebagai yang terluas dan kelapa yang melampauinya bila dua golongannya dijumlahkan.

Yang Belum Tersedia

Tiga hal tidak ada dalam data maupun pemberitaan yang bisa dirujuk. Pertama, sebaran luas lada per kecamatan di luar penyebutan Rilau Ale.

Kedua, harga lada di tingkat petani Bulukumba, yang tidak pernah diberitakan secara berkala seperti cengkeh dan kakao. Ketiga, berapa bagian lahan lada yang berdiri sendiri dan berapa yang ditanam sebagai tanaman sela di kebun lain. ***

Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.