Ringkasan
- Komoditas ini memimpin daftar perkebunan rakyat kabupaten, baik dari sisi luas lahannya maupun jumlah keluarga yang menggarapnya.
- Satu jenis bibit tertentu diburu petani karena diklaim sudah mulai berbuah pada tahun pertama sesudah ditanam di lahan.
- Ketika harganya jatuh, sebagian penggarap berpindah ke tanaman lain, dan pencurian buah sempat meningkat saat harganya naik.
BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Kakao adalah komoditas perkebunan rakyat terbesar di Kabupaten Bulukumba, dengan luas areal 7.280 hektare, produksi 2.054.903 kilogram biji kering, dan 11.048 pekebun pada 2025. Penggarapnya tersebar antara lain di Kecamatan Gantarang. Artikel ini memuat angkanya, bibit yang sedang diburu, dan pergeseran yang terjadi saat harga berubah.
Angka Resminya
Kakao memimpin daftar perkebunan rakyat Bulukumba dari tiga sisi sekaligus, yaitu luas areal, produksi, dan jumlah penggarapnya.
| Komoditas | Luas areal 2025 | Produksi 2025 | Pekebun |
|---|---|---|---|
| Kakao | 7.280 hektare | 2.054.903 kg biji kering | 11.048 KK |
| Cengkeh | 6.904 hektare | 1.727.328 kg bunga kering | 10.145 KK |
| Kelapa dalam | 5.622 hektare | 3.015.341 kg kopra | 8.364 KK |
Rincian seluruh komoditas beserta sumber datanya dimuat terpisah dalam catatan produksi padi dan perkebunan kabupaten.
Bibit yang Diburu Petani
Pada Juni 2025, bibit kakao jenis MCC 45 menjadi buruan sejumlah petani, salah satunya di Kecamatan Gantarang.
Penjual bibit mengklaim jenis itu sudah bisa berbuah pada umur satu tahun setelah tanam. Klaim tersebut datang dari pedagang bibit, bukan dari hasil uji yang dipublikasikan.
Harga bibitnya ikut naik signifikan dibanding sebulan sebelumnya, seiring naiknya harga biji kakao.
Bantuan Benih dari APBN
Penambahan tanaman tidak hanya lewat pasar bibit. Pada September 2026, Pemerintah Desa Dampang, Kecamatan Gantarang, memfasilitasi sosialisasi bantuan benih kakao dan pala bersumber APBN.
Tujuh kelompok tani dialokasikan menerima benih kakao, yakni Karamole Jaya, Batulapisi Hulu, Batulapisi, Ketapang Raya, Lembanna, Borong Perringnge, dan Raoe Sejahtera. Satu kelompok lain menerima benih pala.
Kepala Desa Dampang, Muhardi Totti, menekankan penerima bantuan harus serius merawat, bukan sekadar menerima.
Saat Harga Berubah
Harga biji kakao bergerak tajam, dan pergerakannya mengubah perilaku penggarap.
Pada Juni 2025, harga turun dari sekitar Rp112 ribu menjadi Rp90 ribu per kilogram, dan sebagian petani mulai beralih menanam merica.
Sebaliknya ketika harga naik, muncul persoalan lain. Pada Mei 2025, kasus pencurian biji kakao dilaporkan marak.
Dua kejadian itu menunjukkan hal yang sama dari arah berlawanan: pendapatan penggarap bergantung pada harga yang tidak mereka kendalikan.
Yang Perlu Diperiksa Sendiri
Angka luas dan produksi di atas berasal dari data tahun 2025 dan diperbarui setahun sekali, sehingga keadaan terkini bisa berbeda.
Dua hal juga belum tersedia: sebaran luas kakao per kecamatan, dan umur rata-rata tanaman kakao di kabupaten ini. Umur tanaman menentukan apakah produksi akan naik atau justru menurun tanpa peremajaan. ***
Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.
