Ringkasan
- Tanaman ini berada tepat di bawah padi dalam daftar pangan kabupaten, dengan hasil ratusan ribu ton setiap tahunnya.
- Pembeli terbesarnya bukan konsumen rumah tangga, melainkan peternak unggas yang memakai hasilnya sebagai bahan baku pakan ternaknya.
- Keluhan petani berulang pada hal yang sama, yakni harga tebusan pedagang yang lebih rendah daripada ketentuan resmi.
BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Jagung adalah komoditas pangan terbesar kedua Kabupaten Bulukumba setelah padi. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mencatat produksi jagung pipilan kering 154.593,68 ton pada 2024. Pemakai utamanya peternak unggas di luar daerah, sementara petani berulang kali mengeluhkan harga jual di bawah patokan pemerintah. Artikel ini memuat angkanya, pasarnya, dan risikonya.
Produksi dan Posisinya
Angka produksinya besar. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bulukumba mencatat jagung pipilan kering 154.593,68 ton pada 2024.
Dengan angka itu jagung menempati urutan kedua setelah padi di antara komoditas pangan kabupaten. Rincian seluruh komoditas dimuat terpisah dalam catatan produksi padi dan perkebunan.
Yang Membeli Bukan Dapur Rumah Tangga
Tujuan terbesarnya industri pakan, bukan konsumsi langsung. Jagung adalah komponen utama pakan unggas.
Pada September 2026, Perum Bulog wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mengirim 33.000 ton jagung ke Jawa Timur lewat program stabilisasi pasokan dan harga, untuk disalurkan kepada peternak di sana.
Posisi itu menjelaskan kenapa harga jagung di tingkat petani bergerak mengikuti urusan yang jauh dari ladangnya, mulai dari harga telur sampai kebijakan pakan nasional.
Harga di Bawah Patokan
Keluhan yang paling sering muncul soal harga tebusan. Pada April 2025, petani di Kecamatan Gantarang menjual jagung pada kisaran Rp2.700 sampai Rp4.000 per kilogram, di bawah harga pembelian pemerintah.
Anggota DPRD Bulukumba, Supriadi, mengkritik lambannya penyerapan jagung petani oleh Bulog di tengah masa panen raya.
Keluhan serupa sudah muncul setahun sebelumnya, ketika petani mengeluhkan harga Rp3.800 per kilogram.
Risiko dari Air
Risiko terbesar di lapangan datang dari banjir, bukan kekeringan. Pada 14 Juni 2025, lahan jagung di Desa Polewali, Kecamatan Gantarang, terancam gagal panen setelah terendam luapan sungai.
Seorang warga bantaran menyebut lahan itu sudah dua kali terendam sejak hujan deras turun. Tanaman padi di pinggiran sungai yang sama ikut terancam.
Keadaan jaringan pengairannya dimuat terpisah dalam catatan irigasi Bulukumba, termasuk kerusakan yang berulang setiap banjir.
Penanaman di Luar Lahan Biasa
Penambahan tanam juga didorong lewat kegiatan bersama. Pada Mei 2025, polisi bersama kepala desa dan warga menanam jagung di Desa Bontonyeleng sebagai dukungan ketahanan pangan.
Yang Perlu Diperiksa Sendiri
Angka 154.593,68 ton berasal dari data 2024 dan diperbarui setahun sekali, jadi keadaan terkini bisa berbeda.
Dua hal juga belum tersedia: sebaran luas tanam jagung per kecamatan, dan berapa bagian produksi Bulukumba yang terserap Bulog dibanding yang dibeli pedagang. Tanpa angka kedua, keluhan harga di atas tidak bisa diukur besarnya. ***
Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.
