Ringkasan
- Pemerintah menetapkan harga terendah pembelian, tetapi harga yang benar-benar diterima petani kerap berada jauh di bawahnya.
- Sebagian petani mengaku belum pernah menerima sosialisasi tentang ketentuan harga yang berlaku di wilayah desa mereka.
- Menjemur hasil panen ternyata tidak otomatis menolong, sebab yang sudah kering pun belum tentu ada pembelinya.
BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Harga pembelian pemerintah untuk gabah ditetapkan Rp6.500 per kilogram, tetapi petani di Kabupaten Bulukumba berulang kali menjual di bawah angka itu, berkisar Rp6.000 sampai Rp6.200. Penyebab yang disebut petani adalah penyerapan oleh mitra Bulog yang tidak berjalan. Artikel ini memuat ketentuan harganya, keluhan yang berulang, dan hal lain di sekitar panen.
Harga Ketentuan dan Harga Nyata
Pada September 2025, petani di Desa Tamaona, Kecamatan Kindang, mengeluhkan gabah mereka hanya dibeli Rp6.000 sampai Rp6.200 per kilogram oleh tengkulak.
Padahal harga pembelian pemerintah saat itu Rp6.500 per kilogram.
Satu keterangan petani di desa itu layak dicatat tersendiri: mereka mengaku belum pernah mendapat sosialisasi tentang ketentuan harga tersebut di wilayahnya.
Penyerapan yang Tidak Berjalan
Beberapa hari sebelumnya, petani di desa yang sama menyebut gabah mereka tidak dibeli pedagang mitra kerja Bulog tanpa alasan yang mereka ketahui.
Jalan keluar yang ditempuh sebagian petani adalah menjemur hasil panen agar tahan disimpan.
Cara itu pun tidak menolong. Gabah kering yang hendak dijual juga disebut tidak ada pembelinya.
Panen Besar yang Menekan Harga
Keadaan ini muncul justru saat panen raya, ketika pasokan melimpah dalam waktu bersamaan.
Padi sendiri komoditas pangan terbesar kabupaten, dengan angka produksi yang dimuat dalam catatan produksi padi dan perkebunan.
Pola tanam tiga kali setahun bahkan didorong di sebagian wilayah, sebagaimana dimuat dalam catatan pola tanam IP 300 di Ujung Loe. Tanpa penyerapan yang seimbang, panen yang lebih sering berarti pasokan yang lebih sering menumpuk.
Penggilingan Berjalan dan Ongkos Angkut
Satu perubahan di tingkat kampung ikut memengaruhi perhitungan petani. Penggilingan padi berjalan makin banyak ditemui di jalan desa sejak beberapa tahun terakhir.
Manfaat yang disebut warga adalah hilangnya ongkos angkut dari lokasi panen ke pabrik, yang sebelumnya minimal Rp15.000 sampai Rp20.000 per karung tergantung jaraknya.
Pemberitaannya menyebut keberadaannya menuai suka dan keluhan sekaligus, meski sisi keluhannya tidak dirinci dalam laporan yang tersedia.
Pencurian Gabah yang Ikut Muncul
Saat panen, persoalan lain ikut muncul. Pada Agustus dan September 2025, warga mengeluhkan maraknya pencurian gabah di Bola Cippe, Gantarang.
Pola yang sama pernah muncul pada komoditas lain ketika harganya sedang tinggi, seperti dicatat dalam catatan kakao Bulukumba.
Yang Perlu Diperiksa Sendiri
Angka Rp6.500 di atas adalah ketentuan yang berlaku pada 2025. Harga pembelian pemerintah ditinjau dari waktu ke waktu, jadi periksa ketentuan terbaru sebelum memakainya sebagai acuan.
Dua hal juga belum tersedia: berapa ton gabah Bulukumba yang terserap Bulog per musim, dan daftar mitra kerja Bulog di kabupaten ini beserta cara menghubunginya. ***
Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.
