Daerah  

BPBD: Hujan Normal Bulukumba Baru November

Redaksi Rubrik
Seseorang bertas ransel melompati genangan di atas dasar danau yang mengering dan retak-retak, dengan teks judul "Hujan Normal November" dan label Rubrik.co.id - Cuaca di bagian bawah gambar
Dasar danau yang mengering pada musim kemarau. Foto ini bukan gambar wilayah Bulukumba. Foto: Rendika Wijayanto / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Kemarau di Kabupaten Bulukumba diperkirakan berlanjut sampai akhir Oktober 2026, sementara hujan berintensitas normal baru diperkirakan datang pada pertengahan hingga akhir November. Kepala BPBD Bulukumba, Andi Hasbullah, menyebut kemarau tahun ini lebih panjang dan lebih kering.

Pada Rabu, 7 Oktober 2026, suhu di Bulukumba tercatat sekitar 33 derajat Celsius dengan peluang hujan yang masih sangat rendah.

Hujan Pertama Diperkirakan Pekan Ketiga Oktober

Andi Hasbullah menyatakan kondisi cuaca masih menunjukkan dominasi kemarau.

“Untuk Bulukumba, kemarau masih lanjut diprediksi,” katanya, sebagaimana dilaporkan Radar Selatan.

Hujan diperkirakan mulai muncul bertahap pada pekan ketiga Oktober, tetapi masih bersifat ringan dan lokal.

“Awal hujan efektif diperkirakan minggu ketiga Oktober mulai ada hujan ringan. Tapi hujan normal baru diperkirakan pertengahan sampai akhir November 2026,” jelasnya.

Beda Hujan Pertama dan Hujan Normal

Dua tanggal itu sering tertukar, dan selisihnya lebih dari sebulan.

Hujan ringan dan lokal pada pekan ketiga Oktober berarti sebagian wilayah basah sementara wilayah lain tetap kering. Hujan dengan intensitas normal baru menandai kembalinya pasokan air yang bisa diandalkan.

Bagi warga yang bergantung pada sumur dan mata air, yang menentukan adalah tanggal kedua, bukan yang pertama.

Distribusi Air Masih Berjalan

Kemarau yang belum berakhir membuat kebutuhan air bersih terus meningkat, dan BPBD Bulukumba masih menyalurkan air ke wilayah terdampak.

Cakupan persoalannya sudah diberitakan sebelumnya: krisis air bersih menjangkau tujuh kecamatan di kabupaten ini.

Pada awal Oktober, BMKG juga sempat memasukkan Bulukumba ke kategori Waspada udara panas.

Prakiraan cuaca untuk kabupaten ini sendiri tidak disusun dari dalam daerah, sebagaimana dijelaskan dalam catatan tentang keberadaan BMKG di Bulukumba.

Pengaruhnya ke Pertanian

Andi Hasbullah menyebut kondisi tahun ini turut dipengaruhi fenomena El Nino yang cukup kuat.

Bagi sektor pertanian, mundurnya hujan normal sampai akhir November memperpendek jendela tanam. Program seperti pola tanam IP 300 di Ujung Loe menuntut tiga kali tanam setahun, yang hanya mungkin bila pasokan air tersedia sepanjang tahun.

Di tingkat provinsi, persoalan yang sama sedang dijawab lewat rehabilitasi jaringan irigasi 54 ribu hektare, yang memperbaiki distribusi tetapi tidak menambah volume air.

Untuk wilayah Sulawesi secara umum, masa peralihan menuju musim hujan diperkirakan berlangsung dari pertengahan Oktober sampai akhir November.

Suhu 33 derajat Celsius yang tercatat pada 7 Oktober berada di bawah ambang Waspada yang dipakai BMKG, yakni 35 sampai 40 derajat Celsius, meski peluang hujannya tetap rendah.

Dua indikator itu tidak selalu bergerak bersama: udara bisa terasa tidak terlalu panas sementara pasokan air tetap menipis.

Jumlah warga yang masih menerima distribusi air bersih dan daftar wilayah sasarannya pekan ini belum dirinci BPBD Bulukumba hingga berita ini diterbitkan. ***

Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.