Daerah  

Harga Cengkeh di Bulukumba dan Musim Panennya

Redaksi Rubrik
Cengkeh kering berwarna cokelat kehitaman memenuhi sebuah mangkuk kayu kecil dan berserakan di atas kain goni, dengan tiga mangkuk rempah lain yang buram di latar belakang, serta teks judul "Cengkeh Kering" dan label Rubrik.co.id - Daerah di bagian atas gambar
Ilustrasi cengkeh kering. Berkasnya tidak menyebut lokasi pengambilan, dan bukan diambil di Bulukumba. Foto: Herusutimbul / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

Ringkasan

  • Komoditas ini menempati urutan kedua di perkebunan rakyat kabupaten, dengan lebih dari sepuluh ribu orang menggantungkan penghasilan padanya.
  • Pedagang membeli dengan harga berbeda-beda menurut mutu, sehingga dua petani di kecamatan yang sama bisa menerima angka tidak sama.
  • Puncak panen pernah diperkirakan jatuh pada akhir Agustus, tetapi waktunya ternyata tidak seragam antara satu kecamatan dan lainnya.

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Harga cengkeh di Bulukumba justru turun ketika panen raya tiba. Pada akhir Juni 2025 cengkeh kering dihargai Rp115 ribu per kilogram saat panen besar belum dimulai, lalu sepuluh hari kemudian tinggal Rp95 ribu sampai Rp98 ribu. Cengkeh basah ikut melemah dari Rp38 ribu menjadi Rp33 ribu per kilogram.

Besarnya Cengkeh di Perkebunan Bulukumba

Cengkeh bukan tanaman sampingan di kabupaten ini. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bulukumba mencatat luasnya 6.904 hektare dengan produksi 1.727.328 kilogram bunga kering untuk tahun data 2025, digarap 10.145 pekebun.

Angka itu menempatkannya di urutan kedua perkebunan rakyat, di bawah kakao yang luasnya 7.280 hektare. Rinciannya ada pada catatan komoditas pertanian Bulukumba.

Dari dua angka itu bisa diturunkan gambaran kasar hasil per orang, yaitu sekitar 170 kilogram bunga kering setahun per pekebun, dan sekitar 250 kilogram per hektare. Dua angka ini dihitung sendiri oleh Rubrik.co.id dari data luas, produksi, dan jumlah pekebun di atas, bukan angka resmi yang diterbitkan dinas.

Harga yang Pernah Tercatat

Waktu Basah Kering Keadaan panen
Juni 2024 Rp35.000 Tidak disebut Sebelum musim panen
Akhir Juni 2025 Rp38.000 Rp115.000 Panen raya belum masuk
Awal Juli 2025 Rp33.000–Rp34.000 Rp95.000–Rp98.000 Panen sudah berjalan

Tanggal pada tabel diambil dari tanggal terbit laporannya, bukan dari tanggal yang tertulis di dalam teks. Dua laporan Juli 2025 memuat tanggal yang tidak cocok dengan hari terbitnya, sehingga yang dipakai adalah yang bisa diverifikasi.

Yang Menjual dan Berapa Banyak

Angka harga di atas datang dari transaksi yang benar-benar terjadi, bukan dari daftar harga. Burhan, petani asal Desa Benteng Palioi, Kecamatan Kindang, menyebut menjual 45 kilogram cengkeh basah seharga Rp38 ribu per kilogram pada akhir Juni 2025.

Pada hari yang sama, Suardi, petani cengkeh lain di Kindang, menjual 25 kilogram cengkeh kering seharga Rp115 ribu per kilogram. Ia menyatakan terus memperluas kebunnya karena nilai jualnya membaik.

Sepuluh hari kemudian keadaannya berbalik. Ismail, petani di Kecamatan Gantarang, menerima Rp34 ribu per kilogram untuk cengkeh basah hasil panen barunya, turun dari Rp38 ribu beberapa pekan sebelumnya. Syamsir, juga dari Gantarang, bahkan hanya menerima Rp33 ribu.

Kenapa Harga Turun Saat Panen

Ismail menyimpulkannya dengan kalimat pendek: panen raya baru mulai, harga tiba-tiba turun. Pola itu dibenarkan dari sisi pedagang.

Waris, pedagang hasil bumi asal Kecamatan Rilau Ale, menyebut penurunan cengkeh terjadi bersamaan dengan anjloknya porang pada pekan yang sama, dari Rp13 ribu menjadi Rp11 ribu per kilogram. Soal porang sendiri dibahas di catatan terpisah.

Satu hal yang disebut berulang oleh pedagang maupun petani adalah mutu. Supriadi, pedagang keliling, menyatakan harga di lapangan berbeda-beda dan selalu berubah tergantung mutu cengkehnya. Syamsir menyampaikan hal yang sama. Itu berarti satu angka harga tidak berlaku merata untuk seluruh petani pada hari yang sama.

Kapan Musim Panennya

Perkiraan waktu panen datang dari petani, bukan dari jadwal resmi. Asikin, petani cengkeh di Kecamatan Rilau Ale, memperkirakan panen 2024 dimulai awal Agustus dengan puncaknya di akhir bulan yang sama.

Ia juga menegaskan panen di Bulukumba tidak merata untuk semua kecamatan, sehingga perkiraan untuk Rilau Ale belum tentu berlaku di tempat lain. Pada 2025, panen dilaporkan sudah berjalan di Kindang dan Gantarang pada awal Juli, lebih cepat daripada perkiraan Agustus tahun sebelumnya.

Soal kecocokan lahannya, Suardi menyebut Kindang mendukung karena struktur tanahnya liat dan cuacanya dingin. Kecamatan Rilau Ale juga dikenal sebagai wilayah cengkeh dan lada, sebagaimana dimuat profil kecamatan tersebut.

Yang Belum Tersedia

Seri harga cengkeh yang utuh tidak tersedia. Yang bisa ditelusuri hanya potongan dari beberapa hari pemberitaan, sehingga rentang terendah dan tertinggi sepanjang satu musim tidak bisa dinyatakan.

Perbandingan dengan harga nasional juga belum ada dalam arsip, padahal itu yang menentukan apakah penurunan Juli 2025 bersifat lokal atau mengikuti pasar yang lebih besar.

Dua hal perlu diperiksa sendiri sebelum dipakai. Pertama, harga yang berlaku sekarang, yang hanya bisa dipastikan lewat pengepul atau pemantauan harga mingguan Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Kedua, jadwal panen tahun berjalan, sebab waktunya bergeser dan berbeda antarkecamatan. ***

Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.